Pemerintah Mulai lakukan Perhatian Khusus pada PTN/PTS?

News.acehcc.com.  (18-01-2026).

Mulai awal tahun 2026 ini yang ditandai dengan kondisi iklim Indonesia masuk dalam kategori ekstrim dan berpeluang setiap saat memunculkan bencana alam, baik musibah banjir dan tanah longsor (hidrometeorologi), ataupun angin topan dan gunung meletus. Tampak adanya perhatian khusus pemerintah mengajak Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta (PTN/PTS) untuk ambil bagian mencari solusi strategis yang tepat.

Seperti upaya mendukung penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional, serta mendorong hilirisasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi, dalam hal tersebut.

Beberapa agenda kegiatan akbarpun digelar, dengan mengundang khusus pimpinan dan intelektual kampus di Indonesia. Ada apa gerangan?

(1)  Pertemuan Kemendiktisaintek bersama 300 Rektor se-Indonesia

Sekitar 300 Rektor PTN/PTS se-Indonesia, mendapat undangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof Dr Brian Yuliarto di Jakarta, Senin (5 Jan 2026).

Menurut salah satu sumber yang hadir dalam kegiatan tersebut, Rektor Universitas Almuslim (Dr Marwan MPd), bahwa kehadiran Rektor se-Indonesia mengikuti arahan Menteri dan kegiatan penandatanganan kontrak kinerja perguruan tinggi berdampak tahun 2026 yang diselenggarakan di Kementerian tersebut, dalam rangka menyatukan arah “Kampus Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045” (https://acehcc.com/).

Menteri menyebut, bahwa kontrak kinerja bukan sekadar dokumen administratif, namun lebih jauh sebagai suatu panduan bersama agar seluruh perguruan tinggi bergerak dalam irama yang sama. “Kita punya peran masing-masing untuk berjuang lebih keras lagi dalam melahirkan terobosan baru, membangkitkan industri maju, dan melakukan hilirisasi penelitian. Dengan kebersamaan, kita bisa membentuk satu orkestra nasional yang saling mengisi dan berdampak nyata bagi masyarakat,” sebut rektor mengutip penyataan Menteri Prof Brian.

Juga Dr Marwan menambahkan, saat ini ada 4.400 perguruan tinggi, lebih dari 300.000 dosen, dan hampir 10 juta mahasiswa, merupakan potensi dan kekuatan besar dari kelompok intelektual ini untuk memberi solusi atas dampak ekonomi, sosial, dan terhadap lingkungannya dan memberikan multiplier effect.

(2) Presiden Undang 1200 Rektor dan Guru Besar PTN/PTS

Presiden Prabowo berdialog langsung dengan sekitar 1.200 Rektor (Pimpinan perguruan tinggi) dan Guru besar PTN/PTS dari seluruh Indonesia. Kegiatan strategis tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Forum nasional tingkat tinggi ini mengusung tema “Manusia, Pendidikan Tinggi dan Sains untuk Kebangkitan Indonesia”, yang bertujuan memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung visi besar pembangunan nasional, demikian keterangan salah seorang intelektual kampus, Dekan Fisip Umuslim (Jamaluddin, S.E., M.Si., CA. CAFP) yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Pada hakekatnya, semua rektor setuju untuk secara kembangaan dan sinergi dengan mitra untuk berkomitmen terus berperan aktif dalam dinamika kebijakan pendidikan tinggi nasional. Sesuai dengan arahan Presiden bahwa “kampus tidak boleh berjalan sendiri, tetapi harus hadir dan memberi solusi nyata bagi persoalan bangsa” (https://umuslim.ac.id/).

Dalam keterangan lain, Rektor Unmuha, Dr Aslam Nur, MA yang hadir dalam agenda Taklimat dan dialog tersebut menyatakan; “Kegiatan strategis ini menjadi momentum penting yang mempertemukan para pimpinan PTN/PTS, sekaligus untuk mempererat sinergi antara pemerintah pusat dengan institusi pendidikan tinggi di seluruh daerah” (https://www.kompasiana.com/unmuha/).

Presiden RI menekankan beberapa poin krusial yang harus menjadi fokus utama dunia akademik yaitu menjadikan kampus sebagai pusat penjaga nilai-nilai kebangsaan. Juga memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan untuk menghadapi tantangan global serta mendorong penelitian akademik yang memberikan dampak nyata dan langsung terhadap pembangunan nasional, ujar Dr Aslam.

(3) Kemdiktisaintek Ajak Majelis Rektor PTN di Indonesia untuk Pemulihan Pascabencana Alam Sumatera 2025

Bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) gelar Rakor pembentukan konsorsium perguruan tinggi untuk penanganan pascabencana alam sumatera 2025 (Rabu (14/1/2026).

Dalam keterangan Salah satu peserta, Rektor UTU Meulaboh Prof Dr Ishak Hasan, MSi menyatakan, kementeraian yang diwakili Dirjen Riset dan Pengembangan, Dr Fauzan Adziman M.Eng menegaskan bahwa pembentukan konsorsium menjadi kebutuhan mendesak agar kontribusi perguruan tinggi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dan berdampak nyata (https://lppm.umuslim.ac.id/).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif lintas perguruan tinggi untuk duduk bersama, berdiskusi mengenai percepatan pemulihan kehidupan masyarakat terdampak, khususnya pada sektor pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Tambahnya.

Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkan kerangka pemulihan dan rekonstruksi nasional melalui pembentukan satuan kerja khusus sesuai keputusan presiden, dengan kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp60 Triliun, yang akan dialokasikan berbasis rencana aksi dan penguatan ekosistem akademik nasional.

Salah satu program yang diperkenalkan oleh Dirjen Fauzan adalah program “Mahasiswa Berdampak” yang mengintegrasikan kegiatan KKN dengan pendanaan proposal mahasiswa agar terlibat langsung dalam proses pemulihan di daerah terdampak. Disiapkan anggaran mencapai 18 hingga 20 Miliar Rupiah kepada 150 proposal, dengan pendanaan maksimal Rp120 Juta/proposal. 

Juga, sebut Fauzan, “Saat ini sudah terdata puluhan pakar kebencanaan lintas kampus yang siap turun langsung, dan konsorsium ini akan membantu kami mendelegasikannya,”

Maka, semua kita penting berkomunikasi publik yang efektif, termasuk melalui media nasional dan konten edukasi, agar pemulihan dapat dipahami dan didukung oleh masyarakat luas, pungkasnya.

(4) Kolaborasi Kemdiktisaintek, KLH, dan PT Perkuat Penanganan Bencana Berbasis Sains dan Teknologi

Mendiktisaintek menyatakan isu yang berkembang dengan salah satu sebab bencana hidrometeorologi yang menerjang Sumatera 26 Nov 2025 lalu dan dampaknya sangat dahsyat melebihi tsunami itu, adalah pengelolaan hutan dan lingkungan hidup yang salah.

Disini kita perlukan dan akan buktikan peran dosen dan guru besar dari berbagai bidang keilmuan, seperti kehutanan, lingkungan hidup, hidrobiologi, sipil, tata ruang, dan bidang terkait lainnya. Peran tersebut, tambah Prof Brian, akan dilibatkan dalam satu tim multidisiplin yang berada dalam arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan kajian-kajian serta penelitian-penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi – sehingga mereka akan memberikan hasil kajian seobjektif mungkin, mantap Prof Brian.

Dalam tanggapannya, Kepala LPPM Umuslim, Dr Afkar MPd menyatakan (https://lppm.umuslim.ac.id/), Karena, sampai saat ini pengelolaan Hutan di negeri rentan bencana seperti Indonesia, masih amburadul ditambah lagi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang salih berganti jadi perbincangan publik. Sementara keduanya kita memiliki kementerian dan departemen serta dinas setiap provinsi dan kabupaten/kota.

Karena sebagaimana disebutkan Menteri Lingkungan Hidup, bencana yang terjadi dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni aktivitas antropogenik berupa perubahan tutupan hutan menjadi nonhutan, kondisi geomorfologi wilayah yang masih muda dan labil, serta dampak perubahan iklim yang ditandai dengan curah hujan ekstrem akibat siklon tropis.

Maka, tambah Dr Afkar, Universitas Almuslim, sebagai salah satu perguruan tinggi dengan multidisplin dan juga memiliki program studi Kehutanan dan Teknik Lingkungan serta prodi pengelolaan SDA & Lingkungan, tentu sangat akrab dengan yang namanya bencana hidrometeorologi. Dan dipastikan akan ikut berpartisipasi dalam kontribusinya pada negara, minimal menangani kondisi di daerah.

Dari empat fenomena diatas, kajian sederhana mensikapi, pertama tentu hal itu sangat positif, peran kampus diaktifkan dan diperdayakan dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya.

Contohnya, Perguruan tinggi memiliki peran krusial dan strategis dalam memacu kemajuan Jerman, menjadikannya kekuatan ekonomi dan inovasi global. Kontribusi utamanya meliputi integrasi riset dengan industri, penyediaan tenaga kerja ahli, dan komersialisasi inovasi. Mereka menerapkan baik yang Namanya Pusat Riset Unggulan dan Inovasi dengan dukungan pendanaan pemerintah dan industri. Hasil riset ini mendorong kemajuan teknologi, terutama dalam mendukung industri manufaktur, otomotif, dan teknologi tinggi lainnya. Juga ada Model Humboldtian (Penelitian dan Pendidikan Terpadu) yang mengintegrasikan pengajaran dengan riset ilmiah. Dan Penyedia Tenaga Ahli (STEM): Universitas, terutama di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), melahirkan lulusan berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga daya saing ekonomi Jerman.

Lalu kedua, tentu perhatian pemerintah pada PTN/PTS harus serius, baik program yang digtawarkan pemerintah dan mau berkolaborasi dengan temuan-temuan perguruan tinggi. Seperti, untuk mendapatkan SDM lulusan yang canggih dan siap membantu negara, adanya jaminan pemerintah dalam hal infrastruktur, riset, beasiswa dan menyalurkan SDM ahli tersebut. (@)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *